Kamis, 11 Oktober 2012

materi bahasa indonesia - MENGAPRESIASI KARYA SASTRA

MENGAPRESIASI KARYA SASTRA

Standar  Kompetensi
Menanggapi siaran atau informasi dari  media  elektronik (berita dan nonberita)

Indikator
Menyampaikan  unsur-unsur intrinsik  ( tema, penokohan, konflik,  amanat, dll.)
Menyampaikan unsur-unsur  ekstrinsik (nilai moral,kebudayaan, agama, dll.)
Menanggapi (setuju atau tidak setuju) unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang disampaikan teman    

APRESIASI SASTRA
Kata apresiasi diserap dari bahasa Inggris appreciation yang berarti penghargaan. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra. Apresiasi sastra berusaha menerima karya sastra sebagai sesuatu yang layak diterima dan mengakui nilai-nilai sastra sebagai sesuatu yang benar. Penghargaan terhadap sastra dalam beberapa tahapan.
   
Tahapan-tahapan dalam mengapresiasi karya sastra adalah:
Mengenal dan menikmati.
    Pada tahap ini kita berhadapan dengan suatu karya, kemudian kita mengambil suatu tindakan membaca, melihat, menonton, dan mendengarkan suatu karya sastra.
Menghargai.
    Pada tahap ini kita merasakan manfaat terhadap nilai karya sastra yang telah dinikmati. Manfaat ini berkaitan dengan kegunaan karya sastra tersebut yaitu memberikan kesenangan, hiburan, kepuasan, serta memperluas wawasan dan pandangan hidup.
Pemahaman.
     Pada tahap ini kita meneliti serta menganalisis unsure-unsur yang membangun karya sastra tersebut, baik unsur instrinsik maupun unsur ekstrinsiknya. Kegiatan ini kita dapat memberikan kesimpulan tentang baik atau tidak, bermanfaat atau tidak sastra tersebut bagi masyarakat sastra.
Penghayatan.
    Pada tahap ini kita menganalisis lebih lanjut, dan membuat interpretasi atau penafsiran terhadap karya sastra tersebut.
Aplikasi atau penerapan.
    Nilai, ide, dan gagasan diinternalisasi dengan baik sehingga masyarakat dapat mewujudkan nilai-nilai tersebut ke dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari.
    Dengan demikian, kegiatan apresiasi sastra adalah suatu prosese mengenal, menikmati, memahami, dan menghargai suatu karya sastra sengaja, sadar, dan kritis sehingga tumbuh pengertian dan penghargaan terhadap karya sastra.
   
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sastra adalah:
  Bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari).
  Karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki cirri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.
CIRI-CIRI KARYA SASTRA
Memberikan hiburan
Karya sastra merupakan ekspresi dari keindahan sehingga selalu menyenangkan umtuk dibaca.
Menunjukkan kebenaran hidup manusia
Dalam karya sastraterungkap berbagai pengalaman hidup manusia baik-buruk, benar- salah, menyenangkan-menyedihkan. Karena itu pembaca dapat memetik pelajaran dari karya tersebut.
Melampaui batas bangsa dan zaman
Nilai-nilai kebenaran, ide, gagasan dalam karya sastra bersifat universal sehingga dapat dinikmati oleh pembaca dari bangsa manapun. Karya  sastra yang baik dapat menerobos batas waktu dan tetap relevan sepanjang zaman.

PENILAIAN KARYA SASTRA
    Baik tidaknya sebuah karya sastra ditentukan oleh tiga norma atau nilai yang menjadi ciri dari karya sastra tersebut yaitu:
Norma estetika
Karya sastra itu mampu menghidupkan atau memperbaharui pengetahuan pembaca, dan menuntun pembaca melihat berbagai keindahan.
Karya sastra mampu membangkitkan aspirasi pembaca untuk berfikir, berbuat lebih banyak dan lebih baik bagi penyempurnaan kehidupan.
Karya sastra mampu memperlihatkan peristiwa kebudayaan, social, keagamaan, dan politik dalam kaitannya dengan seni dan keindahan.
Norma sastra
Karya sastra mampu merefleksikan kebenaran hidup manusia
Karya sastra mempunyai daya hidup tinggi yang senantiasa menarik untuk dibaca kapan dan dimana saja.
Karya sastra itu menyuguhkan kenikmatan, kesenangan, dan keindahan karena struktur kata dan bahasanya yang tersusun baik dan selaras.
Norma moral
Karya sastra menyajikan, mendukung, dan menghargai nilai-nilai kehidupan yang berlaku di masyarakat.

UNSUR-UNSUR KARYA SASTRA
    Sebuah karya sastra (cerpen, novel, drama, dan puisi) merupakan hasil karya yang berdasarkan rekaan atau imajinasi pengarang. Hasil rekaan itu biasanya dibangun berdasarkan unsure-unsur. Unsur-unsur karya sastra dibedakan menjadi dia macam, yaitu unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik.
    Unsur instrinsik atau unsur dalam adalah unsur yang mempengaruhi karya sastra itu dari dalam karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur ini dapat kita jumpai ketika kita membaca karya itu.

UNSUR-UNSUR INSTRINSIK KARYA SASTRA
Penokohan / Perwatakan
    Tokoh adalah individu rekaan yang sangat berperan dalam cerita, yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita (Sujiman, 1990:79).  Penokohan atau perwatakan merupakan pelukisan tokoh cerita, baik keadaan lahir maupun batinnya, termasuk keyakinannya, pandangan hidupnya, adat-istiadat, dan sebagainya.
Penokohan terdiri dari beberapa macam:
Tokoh utama (protogonis) adalah tokoh yang memegang peran utama dalam cerita. Tokoh utama terlibat dalam semua bagian dalam cerita (bersifat sntral).
Tokoh Antagonis adalah tokoh yang karakteristiknya bertentangan dengan tokoh utama dan berperan untuk mempertajam permasalahan sehingga membuat cerita menjadi hidup dan menarik.
Tokoh Tirtagonis (Figuran, bawahan) adalah tokoh yang tidak mempunyai peran dalam cerita karena tidak terlibat secara langsung dalam semua bagian cerita. Tokoh tirtagonis berperan sebagai penghubung antara tokoh protogonis dan antagonis.
Ada tiga metode melukiskan perwatakan dalam cerita:
Metode Analitik
Pengarang secara langsung menceritakan atau menjelaskan perwatakan masing-masing tokoh.
Metode Dramatik
Pengarang tidak secara langsung menceritakan perwatakan para tokoh, melainkan menggambarkan perwatakannya dengan cara:
Melukiskan lingkungan atau tempat tinggal tokoh
Menampilkan dialog-dialog antartokoh yang nantinya akan mencerminkan watak tokoh.
Menceritakan tingkah laku, perbuatan, atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa yang dihadapinya.
Metode campuran (gabungan antara analitik dan dramatik)
Pengarang menggabungkan kedua metode tersebut dengan anggapan keduanya bersifat saling melengkapi.
Tema.
    Tema merupakan ide pokok, dasar, atau landasan terbentuknya sebuah cerita. Dalam sebuah karya sastra pada dasarnya mengandung permasalahan. Namun demikian, pengarang juga menampilkan pemecahan atau jalan keluar dari permasalahan tersebut. Pada karya sastra yang baik, tema justru tersembunyi di dalam seluruh elemen. Pengarang menggunakan teknik dialog, jalan fikiran, perasaan tokoh, kejadian-kejadian, tempat kejadian untuk mempertegas tema. Karya sastra yang bermutu bertema universal dan bersifat monumental, dapat memiliki beberapa tema tetapi selalu terdapat tema utama.

Plot atau Alur
    Plot atau alur atau jalan cerita adalah rangkaian peristiwa atau kejadian di dalam cerita yang saling berhubungan satu sama lain dan disusun berdasarkan hukum sebab-akibat (kausalitas).
Tahapan-tahapan alur:
Perkenalan
Pertikaian / konflik mulai terjadi
Konflik
Klimaks
Peleraian / penyelesaian / solusi
Penutup
Macam-macam alur:
Berdasarkan keeratan hubungan antarperistiwa alur tertdiri dari:
Alur erat
Sebuah cerita memiliki alur erat apabila hubungan antarperistiwa terjalin padu dan padat sehingga tidak ada satupun peristiwa itu dapat dihilangkan.
Alur longgar
Sebuah cerita memiliki alur longgar apabila hubungan antarperistiwa terjalin kurang erat sehingga ada peristiwa yang dapat dihilangkan tetapi tidak sampai mengganggu jalan cerita.
Berdasarkan akhir cerita alur terdiri dari:
Alur ledakan artinya suatu cerita berakhir dengan mengejutkan.
Alur lembut artinya suatu cerita berakhir dengan tidak mengejutkan / bisikan
Alur campuran (ledakan dan lembut)
Berdasarka rangkaian peristiwa alur terdiri dari:
Alur maju (linier)
Alur mundur (flashback)
campuran
Berdasarkan sifatnya alur terdiri dari:
Alur terbuka artinya akhir cerita merangsang pembaca untuk mengembangkan kembali jalan cerita.
Alur tertutup artinya akhir cerita tidak merangsang pembaca untuk menentukan jalan cerita
Alur campuran

Latar atau Setting
Latar atau setting adalah penggambaran mengenai waktu, tempaat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita. Tokoh-tokoh dalam cerita hidup pada waktu dan tempat tertentu.
Ada tiga macam latar:
Latar waktu
Latar tempat
Latar suasana

Sudut Pandang atau Poin Of View
Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam menyampaikan ceritanya. Dengan kata lain bagaimana pengarang menempatkan diri atau mengambil posisi dalam menuturkan cerita
Ada empat macam sudut pandang pencerita:
Sudut pandang orang pertama
Sudut pandang orang ketiga
Sudut pandang
Sudut pandang

Amanat atau Pesan
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca, penonton, atau pendengar dalam ceritanya.

Cara-cara penyampaian amanat:
Secara eksplisit artinya pengarang secara langsung menyampaikan pesannya atau tertera dalam cerita.
Secara implicit artinya pengarang mengemukakan pesannya secara tidak langsung atau pembaca mencarinya sendiri (tersirat).

UNSUR-UNSUR EKSTRINSIK KARYA SASTRA
    Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari luar karya sastra atau disebut unsur luar.

Bacalah cerpen di bawah ini!
Tentukan tema temanya!
Catatlam latar dalam cerpen. Sertailah dengan kalimat yang mendukungnya!
Catat pula penokohannya. Sertai pula kalimat yang mendukungnya!

Langit biru dan seekor gagak
Menggarisnya dari arah kampung

    Rini berdiri di ambang pintu bersandar bahu pada kusen pintu. Tangan kirinya turun naik mencari kutu yang kemudian remuk di kuku jempol tangan. Pikirannya tidak pada kutu. Matanya yang besar dinaungi bulu panjang-panjang menatap dataran luas petak-petak sawah kering pecah-pcah.

    Dan setiap terbentur pada rumpun kamboja kejauhan batas pandangan, kelopak matanya berkerjap-kerjap kuyup basah air mata.

    Kemarin ibunya, selang beberapa hari adik laki enam tahun. Kehilangan yang berurutan: beras-jagung-ubi-dedaunan-bungkil-pisang-umbi-gadung yang memabukkan ibu dan adik. Esok lusa ayah? Sang ayah mengerang.

    Ayah kelaparan. Rini berbalik, melangkah, dan kemudian duduk memijit jemari kaki lelaki kurus kering. Rini tidak berani memijit selain jemari, sebab daging bengkak mengkilap seolah berminyak itu akan menerkam tapak jemari tangannya. Aneh, mengerikan dirinya.
    “Amak … Amak…?”
    “Ng…ng … ah?  Ada apa, Rini?”
    “Sedikit saja kenapa amak, bubur, Rini yang bikin biar berisi perut amak.
    Lelaki kelaparan itu mengipas telapak tangan. “Makanlah kau Rini, Dimana dapat beras?”
    “Bukan beras biasa amak, bulgur. Diberi tadi oleh Hasan”  Dan Rini menangis oleh tolakan itu. Kecintaan sang Ayah terhadap dirinya mengharui hatinya benar-benar. Dan Rini tahu apa arti telapak tangan ayahnya yang mengipas “tidak” yang tak bisa ditawar lagi. Sendok berdenting di piring yang terpaksa ditaruhnya di atas meja. Lalu melangkah ke luar kamar. Duduk di amben sambil terisak-isak. Aku tahu kau tidak mencintaiku, Rini. Terimalah, aku tidak ada niat lain kecuali menunda kematianmu, kematian ayahmu, setelah kau kehilangan ibu dan adik. Hasan pagi tadi membawakan satu kobok bulgur.
    Sang Ayah mengerang lagi.
    Rini menutup muka dengan tangannya yang kurus dan dengan raungan  ditahan menghambur ke halaman, setelah lari ke jalanan. Di pinggir jalan seekor anjing hitam penuh koreng kurus tinggal kerangka tidak ambil pusing pada Rini. Sambil lidah terjurus menggaris tanah berdebu denganekornya, berbelok ke sebuah embung berair sejengkal, mencebur – berendam dengan mata menatap langit biru.
    Berkebar-kebar kain londong hitam Rini. Berkebar-kebar baju lambung hitam yang dipakainya menempuh dataran kering gersang, melintasi pamatang di mana  batang-batang pohon turi kehabisan daun bercongkah-dedaunan yang jadi darah Rini, yang menunda kematian fatal yang mulai menimpa seluruh desa. Kamil apakah kau mau mati di kota, Kamil? Tiga minggu telah kaup pergi. Tidak tahu kau ibu dan adikku telah mati. Ayah pasti mati pula, bakal tidak kau ketahui juga agaknya. Rini, aku telah putuskan berangkat ke kota hari ini. Di sini apa mesti aku kerjakan selain mendongak mengharap hujan. Cuma lima kali hujan turun kemudian hilang. Bibit padiku habis menguning semua. Mati.

    Rini melemparkan tubuh di gundukan kubur ibunya. Merangkul tanah dan meraung melepaskan dukanya. Inak,…inak, kau biarkan aku sendiri?

    “Kau tidak sendirian Rini,” kata Hasan. “Kamil mungkin mati di kota. Dia biarkan ibumu mati, adikmu dan sekarang bapakmu!”

    Rini bangkit terkejut dan hendak berlari pulang. Cepat Hasan menangkap lengan Rini. “Aku barusan mencarimu, aku jumpai bapakmu sudah jadi mayat. Aku yakin kau pasti ke mari, Rini”
    “Lepaskan tanganku. Lepaskan.
    “Tidak kau tanak semua bulgur yang kuberikan itu, Rini. Bulgur masih banyak tersisa di mejamu.”

    “Lepaskan tanganku, lepaskan!”  Rini meronta sekuat tenaganya yang lemah kelaparan.

………

Apresiasi puisi dan prosa
Krya: Putu Arya Tirtawirya


Ceritakan kembali cerpen di atas dengan bahasa sendiri!
Ingat, dalam menceritakan kembali, kalian tidak boleh merubah urutan cerita, penokohan, dan latarnya.

Cerita dalam cerpen biasanya mencerminkan kehidupan sehari-hari. Kaitkanlah isi cerpen dengan  kehidupan sehari-hari

Pekerjaan Rumah
Bacalah sebuah cerpen!
Jelaskan unsur-unsur instrinsik cerpen tersebut dengan menunjukkan kutipan yang mendukung!
Ceritakan kembali isi cerpen yang telah kalian temukan dengan bahasa sendiri!
Kaitkanlah cerpen tersebut dengan kehidupan sehari-hari!


MEMBAHAS DAN MENDISKUSIKAN ISI CERITA PENDEK
Bacalah cerita pendek berikut
Kado Perkawinan
      Sejak mengingat sampai sekolah SMP, Rabiah merasakan anak-anak selalu mengejeknya dengan ejekan yang serupa. Orang selalu berbisik di belakangnya kalau mereka lagi tidak senang kepadanya. Bisikan itu selalu dapat didengarnya walaupun jarak yang agak jauh. Sebab kata-kata yang menyakitkan itu sudah dihafalnya. Kata-kata itu seperti pisau belati yang disaytkan ke tepi hatinya, di dalam dada. Dan kata-kata gunting ataupun pisau cukur adalah semacam cuka yang dicurahkan di atas luka yang menggores permukaan hati itu.
Tadi siang ketika mengantar undangan perkawinannya pada Sri, teman bekas seklahnya di SMP, dia dengar orang berbisik sewaktu dia melintas.               







   
MENULIS TEKS  PIDATO

    Berpidato merupakan salah satu bentuk kegiatan berbahasa di depan audiens atau pendengar atau orang banyak. Sebelum berpidato, seseorang diharapkan memperhatikan beberapa hal berikut:
Menentukan tujuan pidato (menginformasikan, menghibur, atau mempengaruhi.
Mempersiapkan diri sebaik mungkin
Mempersiapkan teks pidato
Menentukan metode atau cara penyampaian pidato

Tujuan berpidato adalah:
Memberikan sesuatu kepada pendengar
Menghibur atau menyenangkan hati pendengar
Mempengaruhi pendapat atau pandangan pendengar

Supaya pendengar tertarik pada pidato yang kita sampaikan, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
Menentukan topik atau pokok permasalahann
Merupakan hal yang baru dan menarik perhatian
Sesuai dengan tingkat pendidikan dan tingkat social budaya pendengar
Sesuai dengan sosial budaya setempat

Cara-cara penyampaian pidato
Bersikap wajar
Menyampaikan pidato dengan berdiri, tidak kaku dan tegang, atau bergerak bebas sesuai keperluan.
Penampilan mimik tetap wajar
Suara harus terdengar jelas sampai pendengar yang paling belakang
Suara harus variatif, tidak monoton
Aksentuasi harus jelas dan tepat sehingga memberikan penekanan pada bagian-bagian yang penting
Pandangan mata harus tertuju kepada audien

Penampilan harus menarik dan meyakinkan
Menggunakan bahasa yang komunikatif agar mudah dimengerti audiens
Menyesuaikan waktu dengan reaksi audies

Metode-metode dalam berpidato
Metode Improptu (serta merta, atau spontanitas) adalah pidato yang dilakukan secara langsung tanpa prsiapan terlebih dahulu.

Metode Naskah adalah pidato yang dilakukan dengan menyusun naskah terlebih dahulukemudian, naskah pidato itu dibacakan di depan audiens.
Metode Menghafal adalah pidato yang dilakukan dengan menghafalkan naskah pidato.
Metode Ekstemporant adalah pidato yang dilakukan dengan mencatat pokok-pokok pidato kemudian dikembangkan di depan audiens.

LANGKAH-LANGKAH MENYUSUN TEKS PIDATO

Pembukaan
Bagian ini berfungsi mempersiapkan pendengar, baik emosi maupun pikiran untuk menerima pidato.
Tiga hal yang perlu disampaikan pada bagian ini.
Upaya menarik perhatian audiens atau pendengar
Contoh: “coba anda bayangkan sebentar, apabila setiap pohon di alam ini ditebang untuk membangun rumah atau menjadi bahan baku kertas. Dan apabila dibiarkan berlanjut. Kita akan mati






















Mendengarkan Pembacaan Puisi Dan Mengungkapkan                            Unsur-Unsurnya

Dengarlah pembacaaan puisi di bawah ini dengan baik!


Tengah Malam

     Tengah malam
Aku tersenta mengenang engkau
Padamu, buah hatiku, aku merindu
     Akkh rahasia jiwa,
tersiur, terserah di dalam dada.

     Tengah malam
mata mengalir, tubuh menggigir.
Menyerbu, sayu dan rayu, ke dalam kalbu
     Wah jahatnya kenangan
risah risau tiada keruan,

     Tengah malam
Aku mendamba kepada saat,
Yang membawa jiwa ke hadirat Tuhan.
     Wah besar gembira beta,
Asal silam, Malam bertakhta.
Karya: Rustam Efendi
   

   Apakah maksud puisi yang kalian dengarkan?

Unsur-Unsur Puisi

        Memahami isi puisi memang tida mudah. Ada beberapa unsure yang perlu kalian kaji untuk dapat memahami isi puisi. Unsur-unsur yang terdapat di dalam puisi antara lain:
Tema
Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar atau pokok permasalahan di dalam puisi. Ada berbagai macam tema di dalam puisi, seperti tema ketuhanan, kasih saying, percintaan, atau keindahan alam.

Makna
Makna atau isi puisi dapat dipahami dengan baik jika anda mengerti arti kata-kata yang terkandung di dalam isi puisi. Anda harus mampu menafsirkan arti setiap kata dalam puisi itu. Kata-kata dalam puisi itu ada yang bermakna konotatif dan ada yang bermakna denotatif
Bagaimana cara memahami makna puisi itu?
Ada beberapa langkah yang dapat kalian lakukan untuk memahami makna puisi.
Menentukan kata kunci tiap bait.
Kata kunci merupakan kata-kata yang menjadi inti bait itu.
Contoh:
Bait pertama  :  Merindu
Kalimat          :  Tengah malam aku merindukan buah hatiku
Memparafrasekan puisi itu.
Memparafrasekan puisi berarti kalian merangkaikan keseluruhan bait puisi menjadi kerangka prosa. Maka akan terlihat makna puisi itu.
Contoh:
(saat) tengah malam Aku (tiba-tiba) tersentak (bangun) (Aku) mengenang engkau…..
Mengaitkan puisi tersebut dengan kehidupan nyata.

Pesan
Puisi merupakan salah satu sarana bagi seorang penyair untuk menyampaikan pesan. Pesan itu dapat berupa anjuran, atau nasihat.

Anda perlu tahu
Unsur-unsur instrinsik puisi
selain tema, makna, dan pesan
adalah:
 Pilihan kata / diksi
Penggunaan majas
Rima dan Irama
Tipografi / Tata wajah

Uji Kemampuan!

Cermati puisi berikut!
                                 Ketika Berdiri Aku
Ah terbayang masa mudaku dulu
Bersama orang tua hidup di kaki gunung membiru
Sementara bapak nembang pangkur di tengah sawah membajak

Aku istirahat di pematang sempat membuat sajak

Kami memandang bulir padi runduk bergoyangan
Di pinggir rawa pening begini sepi
Sementara mengusir burung beterbangan
Di sekerat bumi ini aku ingin memetik puisi

Kesan apa yang muncul dalam pikiran dan perasaan kalian ketika membaca puisi di atas?
Tentukan temanya!
Tentukan pula makna puisi tersebut
 Berikut langkah-langkah yang dapat kalian lakukan.
Menentukan kata-kata kunci tiap bait.
Memparafrasekan puisi tersebut.
Mengaitkannya dengan realitas kehidupan sehar-hari.   

































Ungkapan  Atau  Frase Idiomatik

Perhatikan bait puisi di bawah ini!
    Tengah malam
Aku tersentak mengenang engkau
Padamu buah hatiku, aku merindua
    Akh rahasia jiwa,
Tersiur , terserah di dalam dada

Kata bercetak tebal pada bait puisi tersebut merupakan ungkapan. Apakah arti ungkapan tersebut? Dapatkah kalian menyebutkan jenis-jenis ungkapan yang lai?
Ungkapan dapat dibedakan atas bentuk dan kata yang membentuknya.
Ungkapan menurut bentuknya
Ungkapan penuh (Idiom Penuh)
Ungkapan penuh berbentuk kata atau frasa yang maknanya tidak tergambarkan atau tidak sama dengan unsur-unsur yang membentuknya.
Contoh:
membuang muka         =  tidak mau melihat (melengos)
tamu tidak diundang    =  pencuri
Ungkapan Sebagian (Idiom Sebagian)
Ungkapan sebagian berupa kata atau frasa yang maknanya masih tergambarkan pada salah satu unsur yang membentuknya atau salah satu unsurnya masih tetap dalam makna leksikalnya.
Contoh:
daftar hitam                  =  daftar nama orang yang berbuat kesalahan
harga mati                    =  harganya tidak dapat ditawar-tawar lagi

Ungkapan dilihat dari kata yang membentuknya
Ungkapan dengan kata yang menyatakan nama-nama  bagian tubuh
Contoh:
Kaki tangn                   =  orang kepercayaan
Keras kepala               =  tidak bisa diatur
Ungkapan dengan kata yang menyatakan nama-nama  indra
contoh:
Mulut manis                 =  bertutur kata sopan
Hati panas                   =  marah
Ungkapan dengan kata yang menyatakan nama-nama  warna
Contoh:
Berdarah biru               =  keturunan bangsawan
Merah telinganya         =  tersinggung
Ungkapan dengan kata yang menyatakan nama-nama benda alam
Contoh:
Kabar angin                  =  kabar yang belum jelas kebenarannya
Bintang kelas                =  anak yang pintar
Ungkapan dengan kata yang menyatakan nama-nama binatang
Contoh:
Naik kuda hijau             =  mabuk
Otak udang                   =  bodoh sekali
Ungkapan dengan kata yang menyatakan nama-nama tumbuh-tumbuhan
Contoh:
Batang air                      =  sungai
Daun muda                    =  gadis
Ungkapan dengan kata yang berhubungan dengan nama-nama bilangan
Contoh:
Bermuka dua                 =  memihak ke sana ke mari
Setengah hati                =  tidak bersungguh-sungguh



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar